Sesaat, mataku terbuka
Dari lelapnya kemilau kota
Kuterbangun dari bisingnya kehidupan
Terpukau bersama takjub yang lama mengusik rasa

Sesaat, jemariku menyentuh titik cakrawala
Oh Penciptaku…
Siapakah aku ini di balik kubah cakrawalaMu?
Nan luas terbentang sepanjang mata memandang Baca entri selengkapnya »

Dingin
Ku merasakan hampanya penantianmu
Sahabat jiwa…
Saat engkau tertikam tanda tanya
Aku merasakan kegelisahanmu

Kebisuanmu mengingatkan aku akan kepasrahan
Sahabat jiwa…
Disaat kita sama-sama terbuang tidak berdaya
Tersisihkan dari murninya kasih sejati
Jiwa kita tercabik-cabik kecemburuan
Meregang dan mencumbu aroma penghianatan
Kita kerap didera dari rasa bahagia Baca entri selengkapnya »

Disini aku menangis berkalung api
Masih tetap disini seperti terakhir engkau tinggalkan
Menyusu bersama air mata
Bermain dengan tanda tanya Baca entri selengkapnya »

Di lorong gelap kutemukan engkau terbaring
Di sepanjang trotoar jalan kusapa engkau bergeliat
Di istana berlantai tanah kulihat engkau bercumbu bersama angan
Dimana ketidakadilan disana wajahmu terpaku
Dimana ketidakberdayaan disanapulalah engkau menanti Baca entri selengkapnya »

Jejak langkah sang waktu
Nyaris membunuh seluruh asa
Imaji seakan enggan menggurat
Yang tertinggal hanya nanar
Gelap seperti penantian ini

Sisi jiwa gersang 
Kebisuan terajam tandus 
Pangharapan  berkabut kelabu Baca entri selengkapnya »

Mata indah nan lentik
Bersemilah…
Getarkan gairah
Buaikan rasa
Dan menarilah

Eloklah engkau wahai kirana
Pancarkan pesona sejuta jelita
Memaksaku tinggalkan singgasana
Abaikan kuasa menuju belantara
Berkelana berbekal asa
Menemui kekasih hatiku yang nun jauh disana

Dimanakah engkau kutemui?
Berlaksa rindu tersimpul menjadi satu
Berbait puja terangkai seindah bunga
Bagimu bayang sang rembulan Baca entri selengkapnya »

Secangkir kopi menemani subuh ini
Bersama bayangmu merengkuh hangat
Sesaat ku tersadar…
Irama jiwa berkelakar selaras senyap
Menyapu puing-puing lelah tersisa

Keheningan terpecah-belah
Saat raut wajahmu hinggap
Terdengar lantunan tak bertuan
Berdendang perlahan tak tentu arah
Inikah irama romantika?
Lalu, mengapa ada asmara yang tersisa?
Diantara cawan nan menjulang indah… Baca entri selengkapnya »

Terbuai dalam kebisuan
Merangkai hasrat dalam dada
Kumerindukan engkau jelita
Dalam setiap waktu yang terlintas

Bayang wajahmu erat melekat
Terseret langkah menembus pekatnya rasa
Deru debu menggoda kegelisahan Baca entri selengkapnya »

Duhai kekasihku
Dikau berdendang dengan surgamu
Dikau bawa selusin cermin
Berharap berlaksa manusia bercemin atasmu

Keindahanmu tidaklah milik para dewi
Guratan hatimu bukanlah tempahan satu malam
Dan takaran maknamu tidak memenuhi seluruh pengertian
Saat engkau sadar genangan air dapat berlaku cermin
Dan dirimu bukanlah satu-satunya hawa Baca entri selengkapnya »

Berharap kebenaran samudera melekat pada diri
Menampikkan embun pada luasnya lautan
Mengharapkan sinar mentari pada cahaya lilin
Sungguh suatu kebijaksanaan yang patut dikaji kembali

Apakah bumi ini hanya sebatas kotak?
Bermain kata-kata hanya untuk memperoleh kebaikan makna?
Akh… sungguh sempitnya dunia ini…
Sungguh suatu yang sangat gegabah…
Menampikkan imajinasi sebagai sesuatu yang tidak sahih Baca entri selengkapnya »

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.