Jejak langkah sang waktu
Nyaris membunuh seluruh asa
Imaji seakan enggan menggurat
Yang tertinggal hanya nanar
Gelap seperti penantian ini
Sisi jiwa gersang
Kebisuan terajam tandus
Pangharapan berkabut kelabu
Ku mencumbu kelelahan abadi
Diantara ragam pesona bunga di taman
Ku sandarkan janji yang pernah terucap
Dipelukan rimbunan pepohonan
Sesaat sebelum aku terlelap
Dan mungkin akan lenyap dalam keabadian
Mentariku…
Betapa ku merindukanmu
Lebih dari kerinduan itu sendiri
Jika mulutku harus terbungkam
Hinggaplah engkau segala kesukaan…
27.07.10
۩ ۩ ۩

2 komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini
27 Juli 2010 pada 3:45 pm
astrid
Sob…
tanpa sadar airmata menetes dipipiku
ketika kubaca tulisanmu ini
persis berbarengan
dgn seorang bapak (45thn) yg menggandeng tangan anak lelakinya
usia anak itu sktr 10 th.. dia mengenakan kaos hitam, tubuhnya kurus
sorot mata seolah mencari sebuah titik cahaya yg belum ditemukannya
semangat hidup nyaris hilang dari pandangannya
hidup mengalir saja dinikmatinya
masa depan seolah hanya bayangan di ujung kegelapan
begitu pula dgn kondisi bapaknya
hati kecilku mengatakan
mereka butuh sosok wanita
yg siap memberikan ketulusan cinta
ah………..
bagaimana kalau
tokohnya kita ganti jadi seorang ibu
bukan bapak mksdku
Sob,
sebuah gejolak perjalanan rasa
yg sempat mampir didepan tatapanku
dihadapanku ada dunia maya
lalu hadir tokoh dunia nyata didepan mata…
rasanya aku ingin jadi ibu dari anak itu
meski hanya satu hari
mencumbu kerinduannya
yg sudah jadi mimpi panjang
dimatanya….
andai aku dapat berbagi ?
1 Agustus 2010 pada 2:43 am
IstanaPujangga
Luar biasa puisinya… thanks atas apresiasinya, tentu kita dapat saling share satu sama lainnya sob… Sukses selalu buat karya-karyanya…