Di lorong gelap kutemukan engkau terbaring
Di sepanjang trotoar jalan kusapa engkau bergeliat
Di istana berlantai tanah kulihat engkau bercumbu bersama angan
Dimana ketidakadilan disana wajahmu terpaku
Dimana ketidakberdayaan disanapulalah engkau menanti

Sahabat, 65 tahun sudah…
Tatapanmu masih tetap saja nanar ceritakan duka
Didadamu melekat tanda melambangkan jasa 
Namun hati kecilmu jujur berkata bahwa itu hanyalah semu belaka
Raut wajahmu melukiskan kepedihan masa lalu
Sorot matamu terpancar cahaya letupan senjata
Ruang ingatanmu bercerita tentang jasad yang berserakan
Kelam kulitmu semerah darah mengalir di medan perang

Tentangmu seorang sahabat
Yang juga adalah pejuang
Seorang sahabat yang terlupakan
Seorang sahabat yang terabaikan
Engkau bersimpuh di pangkuan ibu pertiwi
Mencium aroma tanah yang bebas dari perbudakan
Seraya tiada hentinya meneteskan air mata
Begitu engkau mengasihi tanah dan air ini…
Namun apa yang engkau peroleh dari kegagahan di masa lalu?
Hanya satu kata…
Diabaikan…
Ya, diabaikan… 
Lantas apalagi?
Ya, hanya diabaikan…
Mau apalagi?
Terabaikan….
Sungguh sederhana
Terlupakan atau diabaikan, sama saja…

27.07.10

۩ ۩ ۩

 

Share/Bookmark