Dingin
Ku merasakan hampanya penantianmu
Sahabat jiwa…
Saat engkau tertikam tanda tanya
Aku merasakan kegelisahanmu
Kebisuanmu mengingatkan aku akan kepasrahan
Sahabat jiwa…
Disaat kita sama-sama terbuang tidak berdaya
Tersisihkan dari murninya kasih sejati
Jiwa kita tercabik-cabik kecemburuan
Meregang dan mencumbu aroma penghianatan
Kita kerap didera dari rasa bahagia
Saat bathinmu terpasung lara
Sahabat jiwa…
Aku turut serta disana
Berbaring bersama luka hatimu
Bersama menikmati lecutan penghinaan
Yang menguliti batas-batas kesabaran
Ku sematkan pita duka cita di relung kesenduanmu
Kita adalah kumpulan orang terbuang
Sahabat jiwa…
Tak memiliki bumi untuk berebah
Tak berkalung mulia di serambi raja
Alam kita adalah kegelapan malam
Tempat berpulang melepaskan gundah gelisah
Berteriak bersama keputusasaan
Bernyanyi mengikuti irama jalang nan malang
Wahai sahabat jiwa…
Aku disana saat dirimu tertikam janji
Aku disana saat dirimu terajam gairah cinta
Aku disana saat dirimu menjadi budak dari hasrat hatimu
Aku disana saat dirimu meronta berpeluh amarah
Aku disana saat dirimu diajukan kehadapan dendam
Aku disana…
Ketika dirimu menatapku memelas sepercik pengertian
Aku dan engkau disana…
Sebelum engkau berpulang, menuju meja pembantaian
Aku juga disana, masih bersamamu sahabat jiwa…
Menggenggam erat jemari dan mengunci relung bathinmu
“Mari…, kita lakukan bersama-sama sahabat jiwa…”
Bibirmu tersenyum kaku penuh pesan perpisahan
Seraya bola matamu menatap bengisnya wajah kematian
Sahabat jiwa…
Engkau harus melepaskan desah nafasmu selamanya
Menerima penghakiman atas semua kebaikanmu
Atas apa yang tidak layak untuk engkau terima
“Mari kita mati bersama…”
Wahai sahabat jiwa…
30.07.10
۩ ۩ ۩

4 komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini
30 Juli 2010 pada 11:32 am
astrid
… mengapa putus asa
membalut relung hati yang sudah penuh luka?
jangan begitu Sob…
tenangkanlah jiwamu disana
tak perlu gelisah seperti itu
aku kan temani kamu
sampai habis waktunya
pesta dunia maya
sebentar lagi Sob…
bahkan alam pun akan hancur sebagiannya
karena banyaknya manusia
yang menikam ulu hati manusia lainnya
disini…
aku sedang mendalami arti sebuah ketulusan
cinta yang sebenarnya dari Sang Maha Pencipta
bersabarlah Sob…
karena Allah mencintai orang-orang yang sabar
se-sabar-sabar-nya.
31 Juli 2010 pada 10:52 am
chi an
waw…
dalam banget kata2′a…..
”mari kita mati bersama”
”sahabat jiwa”
like DiZZ
(^_^)
1 Agustus 2010 pada 2:31 am
IstanaPujangga
Thanks atas kunjungannya dan komentarnya
1 Agustus 2010 pada 2:34 am
IstanaPujangga
Wow… Great Poem…
Thanks atas kunjungannya, terus berkarya dan sukses selalu…