Seorang pemikir bijaksana sejatinya adalah sang jenius, orang yang kerap terluka dan mengasingkan diri dari keramaian semu yang penuh sandiwara sosial. Ia selalu berusaha menggali kedalam dirinya, merefleksikan sejumlah hal baru dengan menjadi diri sendiri untuk membuat dunia yang menjadi lebih berwarna.
Jadi hal ini bukanlah mengenai orang yang berpakaian rapi, formal berdasi dengan segudang gelar, ketenaran, kepopuleran, maupun jabatan prestisius. Seorang jenius bijaksana hanya akan memaksimalkan hidupnya untuk sejumlah karya monumental dan bersejarah, bukan hanya bagi dirinya sendiri, maupun bagi bangsa dan negara saja, melainkan juga bagi nilai-nilai kemanusiaan secara universal.
Hari ini ia akan mengatasi kegalauannya dan menantikan sepanjang tahun dan masa-masa hidupnya untuk berkembang dan selalu berjuang. Ia jadi nampak sedemikian lusuh, dan bau – keluar – masuk ruang tiga dimensi hanya untuk ilmu dan apa yang disebut pengetahuan, untuk hanya sekedar membawa kembali apa yang pernah meninggalkannya di dalam waktu, sekalipun harus terluka dan berdarah-darah lantaran hal yang selalu bisa ia temukan. Ia tidak kompromi terhadap kemapanan, dan lebih memilih terpenjara dalam lorong gelap dan lembab tempat bersemayam keidealisannya.
Ilmu telah membuatnya lumat, terkunci, kelaparan,dan sekarat dibalik siklus – tetapi kelihatannya, tidak ada pilihan lain, selain menghabiskan hidupnya disitu. Ia belajar merumuskan jawaban atas masalah kehidupannya.
۩ ۩ ۩

